Join This Site
Forest Enginering adalah adalah aplikasi teknologi keteknikan ke dalam suatu system vegetasi, tanah, air dan kehidupan untuk menjamin pemanfaatan hutan yang sepenuhnya bagi manusia, mencakup pemanenan kayu, ergonomic dan pembukaan wilayah hutan.

Konsep Pembukaan Wilayah Hutan (PWH) adalah perpaduan teknik, ekonomis dan ekologis dari pembukaan dasar wilayah hutan, pembukaan tegakan dan system penanaman, pemeliharaan, penjarangan dan pemanenan akhir. 

Filososfi PWH adalah menciptakan kondisi yang baik agar persyaratan pengelolaan hutan yang lestari terwujud. “Tanpa PWH yang baik, pengelolaan hutan yang lestari mustahil dapat dicapai". 

Kelestarian hutan akan tercapai, bila dalam pengelolaan alam maupun hutan buatan (Hutan Tanaman Industri/HTI) dapat dilakukan usaha yang intensif terhadap kegiatan penataan hutan, pemanenan hasil hutan dan pembinaan hutan (yang meliputi penanaman, pemeliharaan dan penjarangan dan perlindungan hutan). Agar usaha tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka sarana dan prasarana yang tersedia harus dapat menjamin kelancaran dan kemudahan pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut di atas sehingga tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa hutan alam maupun hutan buatan tidak akan dapat diusahakan secara lestari, tanpa sebelumnya dipenuhi persyaratan pembukaan wilayah hutan (PWH) yang memadai.

JALAN HUTAN

Yang dimaksud “Jalan Hutan”  adalah jalan yang dibangun di hutan untuk melayani tumbuhan hutan dan pemungutannya dikemudian hari, menaksir seekonomis mungkin pembuatan jalan hutan. Terdapat lima bagian yang perlu dipertimbangkan: 
  1. Manfaat jalan hutan, penggunaannya, bentuk permukaannya dan bentuk melintangnya. 
  2. Manfaat pembuatan jalan hutan dengan cara pemadatan tanah, jenis tanahnya dan komposisi lapisan dasarnya.
  3. Penetapan arah jalan.
  4. Proses pembangunan jalan: pembersihan wilayah, pengolahan tanah, pemadatan, kemiringan, drainase dan pemeliharaan.
  5. Masalah pemilihan alat kerja dan pemeliharaannya. 
Ada 3 jenis jalan yang digunakan pada HTI:
  1. Access Roads: Keperluan utama dari access roads, sesuai dengan namanya, adalah menyelenggarakan jalan masuk ke hutan, melayani transport penduduk/buruh dari kampong ke tempat tebangan atau kegiatan hutan lain, atau juga untuk transportasi kayu bulat dari hutan ke tempat processing atau terminal, hendaknya jalan ini memiliki lebar 9 – 12 meter.
  2. Main Roads: Dia melayani transportasi kayu ke suatu titik temu dengan jalan umum (access) dan melayani seluruh kegiatan pada konsesi. Setiap kegiatan sehubungan dengan penebangan diselenggarakan sepanjag jalan ini yang merupakan tulang punggung dari kegiatan konsesi.
  3. Secondary Roads atau jalan blok: Dia merupakan penghubung antara main road dengan tempat kegiatan/eksploitasi, hanya dipergunakan secara temporer, melayani kayu hasil tebangan satu atau dua musim saja, itulah sebabnya, pengerasan dengan batuan umumnya tidak diperlukan. 
Pada umumnya untuk membedakan kelas kualitas jalan dipakai standar jalan, yang ditunjukkan oleh spesifikasi jalan sebagai berikut: 
  • Jumlah jalur lalulintas.
  • Lebar badan jalan. 
  • Lebar permukaan jalan yang diperkeras. 
  • Lereng memanjang jalan. 
  • Beban/kapasitas jalan. 
  • Kecepatan kendaraan yang diijinkan bagi kendaraan bermuatan.
  • Dapat dipakai sepanjan tahun atau hanya pada musim kemarau. 
SISTEM DRAINASE JALAN


Curah hujan yang lebat kecuali pada waktu yang singkat, seringkali merupakan masalah utama bagi pengikisan permukaan jalan atau juga bagi dasar jalan, biasa digunakan untuk menjaga jalan dari hujan yaitu dengan membuat parit kanan dan kiri jalan. Bila ketemu sungai atau cekungan /lembah dibutuhkan gorong-gorong untuk Jembatan dan sekat air (water bar) maupun bak penampung atau pembuatan drainase untuk mengalirkan air di cekungan jika memungkinkan.

TAHAP AWAL PEMBUATAN JALAN
  1. Peta lokasi
  2. Gambar perencanaan , berupa gambar tataletak, gambar denah, dan gambar detail kontruksi
  3. Perhitungan volume pekerjaan, dibuat berdasar gambar yang sudah selesai dan disetujui.
  4. Perhitungan kebutuhan tenaga kerja, pelaksanaan ditujukan oleh kontraktor atau masyarakat sekitar HTI .
  5. Rencana Anggaran Biaya (RAB), dibuat berdasar hasil perhitungan volume pekerjaan dan kebutuhan Hari Orang Kerja serta hasil suvei harga bahan.
Pembuatan jalan bisa dilakukan oleh kontraktor maupun dikerjakan sendiri menggunakan alat rental, alat - alat berat yang digunakan untuk pembuatan jalan terdiri dari :

1.Buldozer, alat ini digunakan untuk mendorong tanah lurus kedepan maupun kesamping, biasanya untuk kegiatan terobos jalan/pembuatan jalan baru
Buldozer












2. Tandem Roller/compactor, alat ini fungsinya untuk pemadatan lapisan tanah dalam pembuatan jalan
Compactor















3. Motor Grader, atau biasa disebut grader adalah alat berat yang memiliki 6(enam) roda ban dengan alat kerja berupa pisau lebar (blade) yang berfungsi utama untuk meratakan jalan, oleh karena itu motor grader sering di gunakan untuk pekerjaan pembuatan jalan, biasanya berdampingan dengan compactor.
Motor Grader















4. Dump Truk, adalah kendaraan jenis yang digunakan untuk mengangkut bahan material seperti pasir, kerikil, atau tanah atau pasir batu(sirtu) maupun laterit untuk keperluan kontruksi jalan. 
Dump truck














5. Excavator, berfungsi untuk membersihkan sampah maupun pepohonan kemudian diratakan, bekerja dengan cara menggali atau menguruk tanah.
Excavator 















ke 5 (lima) alat berat diatas merupakan alat berat yang biasa dipakai oleh perusahaan pengelola hutan industry dalam pembuatan jalan baru maupun perawatan jalan. Dengan infrastruktur jalan yang baik maka hasil pemanenan hasil kayu HTI menuju ke mill sebagai pasokan bahan pulp/kertas akan lancar dan jalan HTI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari managemen hutan industry.

Proses pembuatan jalan kering /Dry Land meliputi : 

1.Road plan Verification -> 2.Land Clearing -> 3.Road forming & cut and Fill -> 4.Bridge and culvert contruction -> 5.road grading and compacting -> 6.road surfacing.

Penjelasannya:
Land clearing         : pembersihan lahan untuk pembuatan jalur jalan.
Back filling             : Penimbunan dengan tanah yang sifatnya water resistance/kedap air
Road grading         : Pembentukan badan jalan  
cut and Fill              Memindahkan tanah dari daerah yang lebih tinggi ke daerah yang lebih rendah.
Bridge                     : Kegiatan pembuatan jembatan diareal sungai.
culvert contruction  : Kegiatan pembuatan gorong-gorong.
road grading          : Kegiatan meratakan tanah atau material.
Compacting           : Kegiatan Pemadatan  material/tanah
Road Surfacing     : Memberikan lapisan  diatas permukaan jalan yang sudah degrading.

Gambar.
SKEMA BENTUK JALAN HTI



Sampai jumpa lagi di pembahasan hutan tanaman industri pada tema yang berbeda dan menurut sudut pandang penulis, lebih kurangnya mohon dimaklumi.

0 komentar: